Tuesday, December 1

Mengenal Batik Kraton

Pada zaman dahulu, pembatikan yang hanya dilakukan oleh sang putri di lingkungan keraton dipandang sebagai kegiatan yang sarat akan nilai-nilai spiritual yang membutuhkan pemusatan pikiran, kesabaran dan pemurnian jiwa berdasarkan permintaan, petunjuk dan berkah. Tuhan. Mahakuasa. Oleh karena itu dekorasi batik terbaru senantiasa mengedepankan keindahan yang tak lekang oleh waktu dan mengandung nilai-nilai simbolik yang sangat erat kaitannya dengan latar kreasi, penggunaan dan penghayatannya.

Batik Kraton adalah batik tulis dengan corak tradisional terutama yang awalnya tumbuh dan berkembang di keraton Jawa. Penataan dekorasi dan warna merupakan perpaduan antara seni, kostum, visi kehidupan dan kepribadian luar biasa dari lingkungan yang memproduksinya yaitu lingkungan bangunan.
Awalnya, batik Kraton secara keseluruhan, mulai dari pembuatan corak dekoratif hingga pewarnaan terakhir, semuanya dibuat di Kraton dan dibuat khusus untuk keluarga kerajaan.

Seiring dengan semakin meningkatnya kebutuhan batik di lingkungan Kraton sudah tidak mungkin lagi hanya mengandalkan putri dan keraton saja, kemudian bisa dilupakan dengan membatik di luar keraton oleh kerabat dan keraton yang tinggal di luar keraton. Usaha keluarga ini berkembang menjadi industri yang dijalankan oleh pedagang dan mulai berkembang di luar keraton berupa batik sudagaran dan batik pedesaan. Kraton Batik terletak di Kasunanan Surakarta, Kesultanan Jogjakarta, Pura Mangkunegaran dan Pura Pakualaman. Perbedaan utama keempat Batik Kraton terletak pada bentuk, ukuran, patra dan warna warna soga (coklat).

Batik Keraton Yogyakarta

Jogjakarta sebagai ibu kota dan kerajaan Jawa yang dikenal sebagai jantung seni batik. Desain batik di Jogja sangat unik karena mengembangkan kombinasi corak geometris yang berbeda. Contoh desain batik Jogja adalah: Grompol dan Nitik. Grompol biasanya digunakan untuk acara pernikahan. Grompol artinya kebersamaan, melambangkan kehadiran bersama dari segala hal baik, seperti; semoga sukses, bahagia, anak-anak dan pernikahan yang harmonis. Nitik merupakan motif yang banyak dijumpai di Jogja. Pada festival tahunan kolonial (Jaarbeurs) pada masa penjajahan Belanda, seorang pembatik bernama Nitik Jaarbeurs dengan dalih memenangkan penghargaan tersebut.

Batik Keraton Surakarta

Surakarta atau Solo adalah salah satu dari dua kesultanan di Jawa, dengan banyaknya tradisi hingga adat istiadat keraton yang merupakan pusat kebudayaan Hindu-Jawa. Keraton bukan hanya tempat tinggal raja, tetapi juga pusat pemerintahan, agama dan budaya yang tercermin dalam seni kabupaten, terutama pada ciri-ciri batiknya: corak, warna dan aturan pakai. Di Solo ada beberapa aturan khusus mengenai penggunaan batik, antara lain: status sosial pemakainya dan acara khusus dimana batik harus digunakan bersamaan dengan keinginan atau berkah yang dilambangkan melalui desain batik.

Batik Pura Mangkunegaran

Corak corak Pura Mangkunegaran mirip dengan batik Surakarta Karaton, namun dengan warna soga coklat kekuningan. Namun batik di Pura Mangkunegaran selangkah lebih maju dalam pembuatan motif. Hal ini terlihat dari banyaknya motif batik yang ada di Pura Mangkunegaran. Corak batik Pura Mangkunegaran seperti misalnya: pakis buketan (oleh Bu Bei Madusari), sapanti nata, ole-ole, wahyu tumurun, parang kesit barong, parang sondher, parang klithik glebag seruni, cemeng lirik (oleh Ny. Kanjeng Mangunkusumo).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *