Saturday, September 26

Mengenal Batik Tutur,

Batik adalah kain bergambar yang dibuat khusus dengan menuliskan atau menempelkan lilin pada kain batik tersebut. Kemudian pengolahannya diolah dengan cara tertentu yang memiliki ciri khas tersendiri.

Di Indonesia batik menjadi salah satu lambang kearifan lokal dan lambang jati diri bangsa sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan. Di setiap daerah batik memiliki ragam corak dan ciri motif yang berbeda-beda sesuai dengan kearifan lokal yang ada di kabupaten itu sendiri.

Seni membatik telah diwariskan secara turun-temurun sejak ratusan tahun lalu dan berkembang pesat di era kerajaan Majapahit. Hal ini terlihat pada pahatan relief candi yang menggambarkan penduduk zaman dahulu mengenakan pakaian bermotif batik.

Batik diyakini dapat menjadi indikator status sosial masyarakat dan membawa aura martabat bagi yang mengingatnya. Tak heran, beberapa motif batik tradisional hingga kini hanya bisa digunakan oleh keluarga Istana Yogyakarta dan Surakarta.

Oleh karena itu, batik Indonesia telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan manusia untuk budaya lisan dan non-verbal (masterpiece of oral and intangible human heritage) sejak 2 Oktober 2009. Dan sejak itu setiap tanggal 2 Oktober ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional.

Dari berbagai macam motif batik yang tersebar di seluruh nusantara, Blitar tentu saja memiliki batik tersendiri yaitu Batik Tutur. Sesuai dengan sebutannya, Batik Tutur berarti Tutur atau Pitutur (Bahasa Jawa berarti nasihat yang sarat dengan makna filosofi hidup di setiap motifnya. Sebelum dikenal oleh masyarakat umum, Batik Blitar yang angkuh ini memiliki perjalanan sejarah yang cukup panjang.

Menurut Sekretaris Dewan Kesenian Kabupaten Blitar, Rahmanto Adi, keberadaan batik awalnya diketahui melalui gambar hitam putih yang terdapat pada arsip-arsip kuno zaman penjajahan Belanda. Pada keterangan keterangan tertulis “Batik Afkomstig Uit Blitar, 1902” tertulis. Dalam bahasa Belanda yang artinya kurang lebih yaitu “Batik dari Blitar, 1902”.

Dikutip majalah Panji, batik memiliki beberapa motif antara lain batik Cinde Gading, batik Gambir Sepuh, batik Simo Samaran, batik Winih Semi, batik Jalu Watu, batik Celeret Dubang, batik Tanjung Manila, batik Mupus Pupus, batik Galih Dempo, batik Mirong Kampuh Jinggo, Batik Gunung Menyan dan lainnya.

Meski dikutip dari infobatik.id, motif Batik Tutur sendiri mengandung simbol-simbol yang menggambarkan sindiran kepada penguasa dan ndoro bentukan penjajah Belanda saat itu. Namun, “batik tulis masyarakat Blitar” yang berkembang saat itu masih sebatas cerita Wayang Beber yang ditujukan untuk menghiasi dinding ruangan.

Oleh karena itu, lanjut Rahmanto Adi, saat ini Dewan Kesenian Kabupaten di Blitar terus memantau dan mengembangkannya sebagai cikal bakal atau sarana batik daerah. Proses pembuatan batik khas Kabupaten Blitar membutuhkan waktu yang lama dan lama dengan penanggung jawab penduduk setempat. Hingga lahirlah batik khas Kabupaten Blitar yang oleh Wima Brahmantya (Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Blitar) disebut Batik Tutur.

Batik Tutur menggunakan gambar hewan dan tumbuhan sebagai elemen atau dekorasi utama. Ragam hias utama tersebut kemudian dihubungkan dengan unsur-unsur tertentu sehingga satu ragam hias utama terkait dengan yang lain dan membentuk suatu petak atau papan (Ucapan).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *